Sejarah Abah Mutawally


Kiyai Mutawally lebih dikenal dengan sebutan Abah Mutawally merupakan sosok ulama yang terkenal mempunyai ilmu kanuragan dan ilmu hikmah yang tinggi, Ia merupakan ulama Kuningan yang cukup terkenal tapi tidak banyak diangkat menjadi sebuah kajian jaringan intelektual pada masanya. Jika sumber data yang menerangkan tentang kelahiran Abah Mutawally ini pada awal abad 19 itu autentik, besar kemungkinan ia semasa dengan Kiyai Hasan Maolani Lengkong, Kiyai Muhammad Arjain, Penghulu Keraton Kanoman sekaligus mursyid tarekat Syattariyyah, dan Syekh Tolhah bin Kiyai Tolabuddin. dicatat bahwa nama Mutawally sebenarnya bukan nama aslinya, akan tetapi sebuah julukan yang diberikan oleh masyarakat berkat keagungan atau lebih dekatnya “kesaktian” beliau. Nama kecil beliau adalah Ki Bagus Siradjur Rasyidin. Pemberian gelar ini tidak lepas dari peristiwa monumental yang terjadi sebelumnya. Menurut tradisi lisan lokal, nama Mutawally pertama kali diberikan pada saat ia menunaikan ibadah haji ke Baitullah dengan menumpang kapal laut207. Kapal tersebut mogok di tengah samudra. Dengan karomahnya, ia berhasil menghidupkan kapal tersebut dengan cara turun ke laut dan mendorongnya. Atas peristiwa luar biasa ini, ia diberi gelar Mutawally yang berarti “orang yang mampu mengangkat”208. Gelar inilah kemudian beliau pakai setelah kembali dari menunaikan ibadah Haji ke Baitullah.

Kiyai Mutawally dilahirkan di kampung Huludayeuh Desa Timbang Kecamatan Cigandamekar Kuningan sekitar tahun 1818/1819. Ia berasal dari keluarga tokoh agama lokal. Ayahnya bernama Ki Bagus Konaan, putra Ki Bagus Maijah, tokoh yang dimakamkan di Bukit Panyamunan, Putat Cirebon. Jika merunut pada daftar silsilahnya, Kiyai Mutawally merupakan keturuan ketiga belas dari Sunan Gunung Jati melalui jalur Maulana Hasanudin. Kiyai Mutawally merupakan cucu buyut Kiyai Tubagus Nadimuddin, seorang ulama asal Banten yang mengembara ke Cirebon setelah jatuhnya kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa dan akhirnya menetap di Timbang dan membangun pesantren pertama di Kampung Huludayeuh Desa Timbang pada tahun 1672.

Sebagai keluarga tokoh agama sekaligus pengasuh pesantren, pendidikan agama Mutawally muda diawali di bawah bimbingan orang tuanya di pesantren Huludayeuh. Selanjutnya, ia melanjutkan pendidikannya ke beberapa pesantren dan kiyai yang ada di sekitar Timbang, Indrapatra dan Cilimus. Sayang tidak banyak informasi terkait bidang keilmuan apa yang diperdalam pada masing-masing guru tersebut dan berapa lama ia berguru pada setiap gurunya tersebut. Tidak cukup puas atas apa sudah ia peroleh, Kiyai Mutawally melanjutkan studi agamanya ke beberapa pesantren di luar Desa Timbang, salah satunya Pesantren Benda Kerep untuk berguru kepada Kiyai Sholeh Zamzami. Di bawah bimbangan Kiyai Soleh ini, Kiyai Mutawally belajar tarekat Syattariyah.

Dari berbagai bidang ilmu yang ditekuni, nampaknya ilmu tasawuf menjadi bidang yang paling menyita perhatian Kiyai Mutawally muda, meskipun ia sendiri tidak pernah secara eksplisit menyatakan sebagai pengikut suatu aliran tarekat tertentu. Hal itu terlihat pada apa yang paling banyak dipelajari oleh para muridnya kelak ketika menyantri kepadanya. Selain itu, ia juga dikenal memiliki kemampuan luar biasa yang dalam tradisi pesantren disebut ilmu laduni. Hal itu juga nampaknya tidak lepas dari pengaruh kuat dari gurunya yaitu Kiyai Soleh Zamzami Benda Kerep yang dikenal memilki kemampuan adikodrati.

Setelah puas belajar agama di level lokal, Kiyai Mutawally kemudian memutuskan untuk melanjutkan studinya ke Mekkah sekaligus untuk melakasanak haji. Tidak ada keterangan yang jelas tentang kapan persisnya ia laksanakan haji tersebut. Akibatnya, tidak ada keterangan tentang berapa lama ia belajar di kota suci tersebut dan siapa sajakah guru-gurunya. Namun jika melihat  usianya,  mungkin  bisa  diduga  bahwa  beliau  mungkin  satu generasi dengan atau sesudah Syekh Kholil Bangkalan, Syekh Hasyim Asy’ary, Kiyai Mas Abdurrahman Menes dan Kiyai Ahmad Dahlan Yogyakarta.

Setelah kembali dari Mekkah, Kiyai Mutawally kembali ke kampung asalnya Huludayeuh. Di sana, ia dinikahkan dengan Nyi Mas Ropiah, namun. Kiyai Mutawally tidak mendapatkan keturunan. Ia lalu menikah dengan Nyi Mas Mursilah. Dari pernikahan terakhir ini, ia dikaruniai delapan orang anak (5 orang perempuan dan 3 orang laki-laki), antara lain Nyai Siti Maemunah Mu’awanah, Kiyai Muhammad Nur Kholid, Nyai Munawaroh, Nyai Siti Masfufah, Kiyai Muhammad Rosyad, Nyai Enju Juhriyah, Kiyai Fadil209 dan Nyai Maesaroh. Anak yang terakhir ini meninggal dunia pada saat masih kecil, sehingga tidak meninggalkan keturunan.

Setelah menikah, Kiyai Mutawally memutuskan untuk tidak menetap terlalu lama di kampung halamannya di mana pesantren yang dibangun oleh nenek moyangnya dan diteruskan oleh orang tuanya berdiri. Hal itu karena pesantren keluarga besarnya tersebut sudah dipimpin oleh kakak tirinya dari istri Kiyai Konaan yang pertama, Kiyai Halmi. Kiyai Mutawally memilih membuka pesantren baru di tempat yang sekarang dikenal dengan nama blok Balangko Desa Bojong, atau sekitar 3 KM ke sebelah barat dari Desa Timbang. Hal itu tidak lepas adanya permintaan khusus dari kepala Desa Bojong saat itu, Kuwu Sidik. Undangan tersebut berintikan permintaan kepada Kiyai Mutawally untuk membuka lahan sawah kosong yang terkenal angker210. Dalam ajakan tersebut juga dinyatakan bahwa Kiyai Mutawally dapat memiliki tanah blok Balangko tersebut, jika mampu mengusir penduduk ghaib tersebut.

Tidak ada keterangan yang pasti tentang kapan Kiyai Mutawally pertama kali membuka pesantrennya. Hanya jika merujuk pada saat pernikahannya yang kedua yang diperkirakan pada usia beliau sekitar 30-an dan juga pada tradisi para pendiri pesantren di mana mereka mulai membuka pesantren rata-rata pada usia 30-an atau 40-an, mungkin bisa diduga bahwa beliau pertama kali membuka pesantrennya di Desa Bojong pada tahun sekitar 1860-an211. Hal pertama yang dilakukan adalah membangun langgar yang namanya identik dengan nama kecilnya, Siradjur Rosyidin At-Thohiriyah. Langgar tersebut hingga kini masih berdiri kokoh dan terawat, meskipun telah mengalami beberapa perombakan dan perubahan baik tata ruangnya maupun bebera fungsinya.

Selanjutnya, pesantren Kiyai Mutawally semakin lama semakin dikenal oleh khalayak terutama mereka yang tinggal di sekitar Desa Bojong dan Desa Cilimus. Tidak sedikit di antara mereka yang kemudian memutuskan untuk tinggal di pondok. Para santri pada awalnya hanya tinggal di langgar yang baru saja dibangun. Namun dengan meningkatnya jumlah mereka yang mondok, para santri juga akhirnya ditampung di rumahnya yang jika melihat kondisi saat ini berada tepat di sebalah barat belakang mimbar langgar. Namun seiring dengan semakin banyaknya jumlah santri yang datang dan mondok, Kiyai Mutawally secara bertahap mulai membangun asrama-asrama yang lokasinya berada di sekitar langgar. Para santrinya datang dari berbagai wilayah baik sekitar Kuningan bahkan hingga beberapa wilayah di Jawa Barat dan Jawa Tengah seperti Sukabumi, Bogor, Indramayu, Tegal, Brebes dan Pekalongan. Hingga kini banyak keturunan murid-muridnya yang masih melakukan ziarah ke makam guru orang tua mereka secara rutin, terutama pada malam-malam tertentu seperti Jum’at Kliwon dan lain sebagainya.

Sementara dari sisi pelajaran, Kiyai Mutawally mengajarkan kepada para santrinya kitab kuning sebagaimana halnya di berbagai pesantren di pulau Jawa yang meliputi ilmu-ilmu fiqh dan terutama ilmu tasawuf atau ilmu hikmah bagi mereka yang sudah berada pada level tinggi penguasaan ilmunya. Selain itu, Kiyai Mutawally juga menyelenggarakan pengajian kitab kuning untuk umum seminggu sekali setiap Kamis pagi. Dalam setiap pengajian tersebut, tidak kurang dari 500 orang hadir untuk mendengarkan pelajaran agama dari Kiyai Mutawally212. Tradisi pengajian umum Kemisan ini hingga sekarang masih dilestarikan, meskipun isinya tidak lagi merujuk kitab kuning sebagaimana pada masa awalnya dan pesertanya tidak lagi para santri tapi ibu- ibu majelis taklim.

Kelebihan Kiyai Mutawally dalam ilmu hikmah selain terlihat pada gelar yang diberikan kepadanya juga didasarkan pada berbagai cerita lisan yang disampaikan oleh para muridnya. Misalnya banyak diceritakan bahwa ketika ia melintas di depan markas tentara kolonial di tempat yang sekarang menjadi Kantor Polsek Cilimus, para tentara kolonial justru tidak bisa melihatnya. Cerita tersebut dan cerita-cerita lainnya lepas dari apakah terbukti secara historis atau tidak membuktikan akan adanya pengakuan terhadap ketinggian keilmuan yang dimiliki dan kharisma yang dipancarkan Kiyai Mutawally.

Pada tanggal 11 November 1953, Kiyai Mutawally yang telah berusia kurang lebih 135 tahun meninggal dunia dan dikuburkan di pemakaman umum Ciloklok, Cilimus. Sebagai sosok yang sangat dihormati, para santrinya serta masyarakat sekitar menyepakati untuk membangunkan sebuah rumah khusus di atas makamnya sebagai salah satu bentuk penghormatan atas keagungan namanya. Di tempat itu pula, dewasa ini para peziarah yang datang dari berbagai wilayah, termasuk juga dari Sulawesi Selatan, melakukan ritual bahkan ada yang menginap berhari-hari dengan harapan mendapatkan barokah.

Pesantren Terpadu Al-Mutawally

Jl. Pesantren No. 177 Dusun Pahing Rt. 11 Rw. 04 Bojong Cilimus, Kuningan Jawa Barat 45556


phone

0232-8910177

mail

ponpesmutawally@gmail.com

Tentang


Berita

Gallery

SOSIAL MEDIA


Copyright 2026 KMApictures. All Right Reserved.